Maluku: 3 Rekomendasi ketika Berkelana di Pulau Ambon

1. Ketahui baik-baik dimana kita berada dengan mengamati hewan peliharaan di sekeliling kita. Sebagai daerah yang pernah terjadi konflik atas nama (provokasi) agama, alangkah eloknya kita mengetahui dimana kita berada. Kita harus bisa beradaptasi dengan daerah-daerah yang baru kita kunjungi supaya dapat diterima masyarakat lokal secara baik. Jikalau kita melihat ada begitu banyak sapi atau kambing atau domba, berarti kita kecenderungan masuk dalam daerah yang mayoritas masyarakatnya beragama Islam; sedangkan jikalau kita melihat ada begitu banyak anjing atau babi, berarti kita kecenderungan masuk dalam daerah yang mayoritas masyarakatnya beragama Kristen Protestan ataupun Katolik. Selagi kita sopan, mereka segan (hormat kepada kita).

 

2. Ketahui baik-baik dimana kita berdiri, khususnya ketika kita di daerah pantai ataupun daerah perbukitan. Di saat musim angin, pohon kelapa melambai-lambai dengan buah kelapanya yang begitu banyak. Bisa jadi buah itu jatuh tidak jauh dari kepala kita. Nah itu dapat berpotensi untuk melukai tempurung kepala kita kalau tidak hati-hati. Ini TIDAK HANYA berlaku untuk pohon kelapa saja, tetapi juga pohon durian. Ini penting lho! Biaya tiket pesawat pergi-pulang Jakarta-Ambon-Jakarta kita saja sudah memakan banyak kepeng, nah ini jangan sampai ditambah dengan biaya rumah sakit untuk menjahit kepala kita ya.

 

3. Kita berkelana ke Pulau Ambon pasti ada keinginan untuk merasakan makanan-minuman lokal yang tersedia di pinggir jalan (bukan di toko atau rumah makan). Nah alangkah eloknya kalau kita bertanya harga terlebih dahulu sebelum memesan. Pastikan semua yang kita pesan memiliki harga yang jelas sejak awal pemesanan, dan tentunya harga terjangkau serta masuk akal. Sangat direkomendasikan untuk bertanya ke kawan-kawan yang kita kenal di Pulau Ambon ATAU bisa juga bertanya ke staf tempat kita menginap terkait berapa harga yang umum untuk membeli makanan-minuman tersebut. Syukur-syukur kita (solo traveler) bisa ditemani seseorang untuk mencari dan membeli makanan-minuman tersebut. Sedih terkadang kalau status kita yang solo traveler ditambah dengan nasib kehidupan asmara yang single sejak lahir. Membeli tiga bungkus nasi kuning Ambon, teh manis, dan air mineral seharga 100ribuan Rupiah lebih di salah satu lapak di daerah Urimeseng Ambon cukup menjadi pengalaman saya saja. Itu harga yang di luar akal sehat, kawan-kawan!

 

Dari 1 sampai 5, berapa nilai untuk tulisan ini?

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *