Menggelorakan Inovasi demi Kemanfaatan Masyarakat Desa

Tulisan ini dibuat untuk menyemarakkan “Lomba Penulisan Artikel – Semangat Membangun Desa” yang diadakan oleh Kemendesa PDTT sekaligus pencarian dana untuk saya mewakili Indonesia di “2017 World Festival of Youth and Students” di Sochi, Rusia pada bulan Oktober 2017 dengan harapan saya memenangkan hadiah dari lomba itu. Bukti keikutsertaan dalam 2017 WFYS dapat dibuka di: http://bit.ly/hutrike72-1

Berdasarkan “Panduan Program Inovasi Desa” yang dibuat oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT) dinyatakan bahwa 81,22% dari total penggunaan dana desa tahun 2016 digunakan sebagai pembangunan sarana dan prasarana desa sebesar 29,46 triliun Rupiah. Dengan demikian diketahui bahwa sebagian besar dana desa ditujukan untuk infrastruktur fisik. Di sisi lain, sangat dibutuhkannya kehadiran langkah pemicu timbulnya inovasi desa dan pertukaran pengetahuan secara partisipatif. Maka dari itu dibentuklah “Program Inovasi dan Pengelolaan Pengetahuan Desa” yang didukung juga dengan hadirnya Dana Operasional Kegiatan (DOK). Program tersebut diterjemahkan menjadi tiga bidang kategori dalam hal pembangunan desa dan pemberdayaan masyarakatnya yaitu infrastruktur, kewirausahaan dan pengembangan ekonomi lokal, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Sumber gambar: World Bank, http://blogs.worldbank.org/eastasiapacific/id/festival-desa-inovatif-tampilkan-ide-ide-segar-penggunaan-dana-desa

Pertama, adalah hal yang sukar bagi desa-desa untuk maju lebih jauh tanpa infrastruktur yang memadai. Target Kemendesa PDTT pada kategori infrastruktur adalah terdokumentasi dan terdesiminasi 500 kegiatan inovasi desa serta meningkatnya dampak ekonomi pada 5.000 embung desa dan 5.000 sarana olahraga desa. Berfokus pada 500 kegiatan inovasi desa tersebut, ternyata ada hal menarik yang terjadi di wilayah pemerintahan Provinsi Nusa Tenggara Barat. Hal menarik itu datangnya dari Pak Sabirin, seorang kepala sekolah dasar di Desa Mekarsari, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur. Melihat desanya itu tidak memiliki sekolah menengah pertama, beliau hadir di tengah masyarakat dengan ide pembangunan “Sekolah Tanpa Dinding” atau “SMP Satu Atap” pada tahun 2012 dengan menggunakan dana sumbangan masyarakat serta didukung juga oleh tim Program Generasi Cerdas dan Sehat Kemendesa PDTT. Sekolah tersebut masih beroperasi sampai saat ini dengan pendanaan masyarakat setempat. Alhasil, tidak ada lagi anak-anak yang langsung menikah setelah lulus SD per tahun 2016.

Sumber gambar: Republika, http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/daerah/17/08/14/ouoosq313-menko-pmk-desa-ponggok-bukti-keberhasilan-bumdes

Kewirausahaan dan pengembangan ekonomi lokal adalah kategori kedua. Di kategori ini, Kemendesa PDTT telah memasang tiga target yang terdiri dari: terdokumentasi dan terdesiminasi 300 kegiatan inovasi desa, berkembangnya ekonomi desa (BumDesa dan BumDesa Bersama) yang berkelanjutan di 5.000 desa, dan berkembangnya produk unggulan desa di 5.000 desa. Yang belakangan sedang menarik adalah tingginya perhatian pemerintah terhadap tumbuhnya desa-desa wisata yang memiliki keunikannya masing-masing.  Tumbuhnya desa-desa wisata turut membawa ‘angin segar’ terhadap ekonomi desa. Ditambah lagi perhatian Kemendesa PDTT terhadap desa wisata dengan memberikan penghargaan sepuluh desa wisata terbaik kepada: Nagari (desa adat) Sungai Nyali di Kabupaten Pesisir Selatan untuk kategori Perkembangan Tercepat, Desa Madobak di Kepulauan Mentawai sebagai Desa Adat, Desa Tamansari di Banyuwangi sebagai Desa Wisata Jejaring Bisnis, Desa Pujon Kidul di Malang sebagai Desa Wisata Agro, Desa Seigentung di Gunung Kidul sebagai Desa Wisata Iptek, Desa Ubud di Gianyar sebagai Desa Wisata Budaya, Desa Waturaka di Ende sebagai Desa Wisata Alam, Desa Ponggok di Klaten sebagai Desa Pemberdayaan Masyarakat, Desa Teluk Meranti di Pelalawan sebagai Desa Wisata Kreatif, dan Desa Bontagula di Bontang sebagai Desa Wisata Maritim.

Sumber gambar: Website Desa Wlahar Wetan, https://wlaharwetan.desa.id/

Akhirnya, kategori ketiga adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia. Target Kemendesa PDTT pada kategori ini adalah terdokumentasi dan terdesiminasi 500 kegiatan inovasi desa; meningkatnya kualitas pelayanan di 10.000 Posyandu dan 10.000 PAUD; meningkatnya kapasitas pelaku BUMDesa Bersama, PruDes, dan PruKades di 5.000 desa; serta meningkatnya kapasitas pengelola embung dan sarana olahraga di 5.000 desa. Dengan dana desa yang begitu besar jumlahnya, maka sudah pastilah sangat diperlukan sumber daya manusia yang mumpuni untuk mengelolanya secara baik. Maka dari itu dibutuhkan berbagai workshop peningkatan kualitas sumber daya manusia supaya tercapainya manfaat-tujuan bersama dengan dana desa yang tersedia.

Dengan demikian, ketiga kategori tersebut akan menentukan apakah “Program Inovasi dan Pengelolaan Pengetahuan Desa” akan berjalan baik atau tidak. Tentunya, semua pihak yang kerja bersama akan berharap yang terbaik demi kemajuan desa-desa di Indonesia.

 

Referensi:
1. “Panduan Program Inovasi Desa” yang diunggah oleh Ferio Abimanyu, https://id.scribd.com/presentation/343944428/Program-Inovasi-Desa
2. “Festival Desa Inovatif Tampilkan Ide-ide Segar Penggunaan Dana Desa” yang ditulis oleh Hera Diani & Samuel Clark, http://blogs.worldbank.org/eastasiapacific/id/festival-desa-inovatif-tampilkan-ide-ide-segar-penggunaan-dana-desa
3. “Ini 10 Desa Wisata Terbaik yang Dapat Penghargaan Mendes” yang ditulis oleh Kompas.com, http://nasional.kompas.com/read/2017/05/14/09430511/ini.10.desa.wisata.terbaik.yang.dapat.penghargaan.mendes

Silakan tinggalkan kritik yang membangun di kolom komentar dan berikan nilai kualitas tulisan ini di bawah ini.

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (No Ratings Yet)
Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *